Saya baru akhirnya mengenal karya Eka Kurniawan setelah bertahun-tahun ia berkarya dan memperoleh pengakuan internasional. Keinginan saya membaca karyanya diperkuat setelah membaca paragraf pembuka novel "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" yang diunggah oleh sohib saya; Boit di jejaring sosial.
Menemukan buku ini terduduk di sebuah laci toko buku membuat saya sigap mengambil dan membaliknya untuk membaca premis novel ini.
Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.
Salah satu kalimat review menyandingkan novel ini dengan "buku-buku kungfu klasik" dan "Fight Club". Tidak pakai pikir panjang ya saya beli, dan selesai hari itu juga.
Buku yang penuh kejutan, plot yang tidak tertebak dengan bahasa yang lugas terkadang puitis yang ditulis oleh seorang sastrawan kelas dunia. Sambil membaca novelnya, saya terbayang berbagai adegan sinematik yang akan seru rasanya.
Bakal sutradaranya pun saya sudah terpikir yaitu Denis Villeneuve, dibumbui musik latar dari band-band post hard-core atau stoner-rock Indonesia seperti Vague, Fall, Sigmun atau Seringai. Maafkan keterlalu antusiasan saya, buku ini keburu menginspirasi imajinasi dan andrenalin saya.
***
Buku ini diselesaikan di Starbucks Metropole, Komplek Megaria.
![]() |
| Eka Kurniawan - Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas |
![]() |
| Metropole, Megaria |
![]() |
| Starbucks, Metropole |
![]() |
| Starbucks Metropole Jakarta |




