Bandar; Keluarga, Darah & Dosa yang diwariskan karya Zaky Yamani

bandar zaky yamani
Membaca Bandar di Amyrea Art & Kitchen Kelapa Gading


Membaca judul Keluarga, Darah & Dosa membuat saya tidak segan untuk mengambil buku ini dari rak dan berjalan menuju kasir. Tanpa menyadari kalau buku ini lebih mirip buku bekas walaupun saya membelinya disebuah toko buku paling gaul di ibukota. 

Seperti biasa, saya terlambat membaca sebuah karya sastra. Buku ini terbit 2 tahun yang lalu dan sudah belasan atau mungkin puluhan resensi bertebaran. Tapi ya ga apa-apa, karena sebuah karya yang bagus tidak akan lekang dimakan zaman. Saya membaca Harimau! Harimau! puluhan tahun setelah rilis, dan karya Injil ribuan tahun setelah penulisnya dipanggil Tuhan.

Buku ini memiliki beberapa elemen yang menarik bagi saya; 
• Kota Bandung 
• Gang Kecil di Kota Bandung 

Ada sebagian dari hidup saya yang dihabiskan disebuah gang kecil di Bandung yang mana sangat membantu proses imajinasi. Novel ini di banyak bagiannya menggunakan alamat asli yang benar-benar ada di kota Bandung, dengan intrik-intrik dan sedikit penggalan sejarah yang membuat saya susah melepaskan diri dari membaca buku ini. 

Walau bau kertasnya sudah lusuh karena mungkin sering dibaca ditempat oleh calon pembeli yang tidak jadi membeli buku ini. Saya lebih menyukai bau buku baru.

Kover novel ini, didesain oleh Resatio dengan manis, jika saja saya tidak membaca judulnya, maka mungkin tidak jadi beli. Namun demikian kombinasi antara judul dan kover ini, benar-benar menggambarkan isi novel ini. Indah dan berbahaya.

Novel 'Bandar' ini bercerita mengenai keinginan seorang ayah untuk mewariskan bisnis bandar ganja ke anaknya. Namun anaknya yang kuliah hukum ini tidak berminat melanjutkan, walau ia juga suka menghisap ganja. 

Karena anaknya menolak, maka ayahnya mulai menceritakan kisah hidupnya dimulai dari cerita mengenai ibunya sendiri yang bernama Dewi. Kisahnya bergerak jauh ke belakang, dimana waktu itu Dewi masih muda dan hidup di era pemberontakan DI pimpinan Kartosuwiryo. 

Cerita terus bergulir dengan simbah darah, cinta dan pelarian. Sampai kemudian Dewi tertipu dan terpaksa menjadi pelacur. 

Saya mulai memperhatikan, banyak sekali buku-buku yang super menarik (bagi saya) isinya adalah simbah darah, ambisi memperoleh kekuasaan atau harta, dan tidak sedikit yang tokoh-tokoh pentingnya berperan sebagai pelacur atau perempuan yang dipaksa bersetubuh.

Dan pelacur dikarya-karya mereka tidaklah dihakimi. Kurang lebih sama dengan isi cerita di kitab suci, yang tidak pernah menghakimi pelacur. Pekerjaan yang seringkali dinistakan, tanpa memperdulikan kalau sebenarnya banyak dari pekerjanya adalah korban.

Cara penulisan Zaky Yamani, kadangkala agak nyeret-nyeret dan membosankan, namun demikian kemampuannya memunculkan konflik dan memainkan alur cukup membuat saya ingin membaca sampai akhir. 

Di beberapa resensi yang saya baca, mereka kecewa dengan penutup buku ini. Namun bagi saya, penutup buku ini justru adalah akhir yang brilian. (Spoiler allert) Saat seorang anak, akhirnya bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

Comments